Apakah Instagram Mendukung Israel? Cek Deretan Faktanya

6 min read

Apakah Instagram Mendukung Israel? Cek Deretan Faktanya

Apakah Instagram Mendukung Israel? Cek Deretan Faktanya JAKARTA- Pertanyaan simpel apakah Instagram menunjang Israel belum lama mengemuka di tengah warga, paling utama yang bersimpati atas perjuangan Palestina melepaskan diri dari penjajahan dan krisis kemanusiaan di Gaza. Persoalan ini bermula dari konflik Israel serta Palestina yang tidak cuma terjalin di dunia nyata, tetapi pula meluas ke sosial media, selaku bagian pertarungan data memperebutkan simpati publik. Platform sosial media semacam X, Instagram, Meta, TikTok banjir konten- konten terpaut Israel, Hamas serta Palestina. Belum lama, atas nama pemberangusan hoaks, keamanan, pembersihan konten- konten bernuansa kekerasan dan alibi lain, banyak akun- akun pro perjuangan Palestina tidak dapat diakses, kena shadow banned, disensor, dan pembatasan- pembatasan seragam. Owner platform sosial media, tercantum Meta, ramai- ramai membantah melaksanakan perihal itu, tetapi terdapat sederet kenyataan lain.

Berikut deretan peristiwa yang menimbulkan persoalan apakah Instagram menunjang Israel?

1. Instagram Sebut orang Palestina

teroris Peristiwa ini bermula dari laporan salah seseorang pengguna Instagram@khanman1996. Ia keberatan lantaran akun bio- nya yang mencantumkan kata Palestina, bendera Palestina serta kata Alhamdulillah, diterjemahkan otomatis selaku teroris Palestina oleh Instagram. Meta juga memohon maaf atas insiden ini.“ Kami serius memohon maaf atas peristiwa ini,” kata juru bicara Meta kepada Gizmodo, Sabtu( 21/ 10/ 2023). Meta juga berjanji membetulkan permasalahan terjemahan bahasa Arab yang tidak pantas tadi.

2. Banyak Unggahan Pro Palestina Disensor

Kepada Aljazeera, seseorang manajer pemasaran dari Brussels, sebagian waktu kemudian, curiga umpan postingannya tentang Palestina di Instagram Stories turun tajam.” Aku mempunyai dekat 800 pengikut, serta umumnya aku memperoleh 200 siaran buat satu cerita. Tetapi kala aku mulai memposting tentang Palestina, aku perhatikan siaran aku menyusut.” Sementara itu, kata ia, ceritanya tidak memiliki foto grafis ataupun memiliki ujaran kebencian. Pengguna Instagram yang lain, seseorang insinyur mesin berumur 29 tahun dari India yang pula memohon anonimitas, memandang cerita Instagram- nya tentang keluhan di Los Angeles serta San Francisco tidak memperoleh satu siaran juga apalagi sehabis satu jam.” Itu tidak biasa,” katanya. Kemudian ia memposting gambar selfie, yang memperoleh keterlibatan biasa semacam yang biasa ia miliki.

 

Pengguna lain hadapi pengalaman seragam serta meringik di platform media sosial itu sendiri.” Sehabis memposting cerita Instagram tentang perang di Gaza kemarin, akun aku di- sensor,” kata jurnalis pemenang Pulitzer Azmat Khan di X. Penulis Pakistan Fatima Bhutto pula berkata Instagram menyensornya serta menghalangi pendapat dan siaran cerita.” Aku belajar begitu banyak tentang gimana demokrasi serta teknologi besar bekerja sama buat memencet data sepanjang perang ilegal yang tidak bisa mereka buat persetujuan buat,” katanya di X. Dalam suatu video yang diunggah ke Instagram, ia berkata kiriman- kirimannya tidak timbul di umpan pengikutnya di platform itu.

 

Ameer Al- Khatahtbeg, pendiri serta editor- in- chief dari Muslim, web kabar yang fokus pada isu- isu Muslim, memandang kiriman dari publikasi tersebut menggapai jauh lebih sedikit orang di Instagram dalam sebagian hari terakhir, turun dari 1, 2 juta saat sebelum dimulainya perang, jadi sedikit lebih dari 160. 000 seminggu sehabis perang diawali.

 

” Wujud sensor terbanyak yang diimplementasikan merupakan terhadap akun apa juga yang mengatakan kata kunci semacam Palestina, Gaza, Hamas, apalagi Angkatan laut(AL) Quds& Jerusalem dalam cerita serta kiriman Instagram bersama dengan hashtag semacam#FreePalestine, serta#IStandWithPalestine,” kata Al- Khatahtbeg kepada Angkatan laut(AL) Jazeera. Muslim bukan salah satunya publikasi yang menuduh platform media sosial melaksanakan sensor.

 

Jaringan Kabar Quds berbasis di Palestina memposting di X kalau taman Facebook- nya ditangguhkan oleh Meta. Dalam unggahan di X pada 15 Oktober, juru bicara Meta, Andy Stone, menyalahkan penyusutan jangkauan kiriman pada bug.” Bug ini pengaruhi akun secara menyeluruh di segala dunia serta tidak terdapat hubungannya dengan modul konten- dan kami memperbaikinya sesegera bisa jadi,” tulis Stone. Kala ditanya tentang tuduhan shadowbanning, Stone memusatkan Angkatan laut(AL) Jazeera ke pos web yang diterbitkan oleh Meta yang menyoroti upaya menanggulangi data yang salah terpaut perang Israel- Hamas. Artikel itu berkata pengguna yang tidak sepakat dengan keputusan moderasi industri bisa mengajukan banding.

3. Instagram Hapus Unggahan tengang Masjid Angkatan laut(AL) Aqsha

Instagram menghapus unggahan tentang Masjid al- Aqsa, sehabis secara galat menandainya selaku terpaut dengan organisasi teroris, bagi laporan BuzzFeed News. Apalagi sebagian artikel dengan tagar#alAqsa yang merujuk pada masjid di Yerusalem tersebut pula terserang kebijakan industri buat memoderasi konten beresiko. Instagram berikan ketahui sebagian pengguna yang postingannya dengan tagar tersebut diblokir sebab kontennya terpaut dengan kekerasan ataupun organisasi beresiko. Salah satu artikel tersebut merupakan infografis yang menarangkan kekerasan yang lagi terjalin di Israel serta daerah Palestina.

4. Instagram Hapus Unggahan Bella Hadid tentang Palestina

Instagram sudah memohon maaf kepada supermodel Bella Hadid, sehabis ia mengkritik platform media sosial tersebut sebab menghapus artikel yang memperlihatkan gambar paspor bapaknya dengan tempat lahirnya tertulis Palestina. Bagi Page Six, suatu outlet kabar berbasis di Amerika Serikat, juru bicara industri induk Instagram, Facebook, berkata gambar tersebut sepatutnya tidak dihapus.” Buat melindungi pribadi komunitas kami, kami tidak memperbolehkan orang memposting data individu, semacam no paspor, di Instagram. Dalam permasalahan ini, no paspor telah diberi blur, sehingga konten ini sepatutnya tidak dihapus,” kata juru bicara tersebut.” Kami sudah mengembalikan kontennya serta memohon maaf kepada Bella atas kesalahan tersebut.”

5. Instagram Blokir akun pro- Palestina serta hapus ratusan akun Hamas

Akun Eye on Palestine(@eye. on. palestine), yang mempunyai lebih dari 6 juta pengikut serta terkenal di golongan pendukung Palestina, tidak bisa diakses pada Kamis 26 Oktober 2023. Akun cadangan formal,@eye. on. palestine2, yang belum lama terbuat buat menjauhi shadowbanning pula jadi hitam. Kedua akun tersebut pula tidak bisa diakses di Facebook serta Threads. Awal mulanya, Meta lewat juru bicaranya, Andy Stone, berkata terencana menonaktifkan akun- akun tersebut sebab kekhawatiran keamanan. Setelah itu Meta mengaku sudah sukses menghubungi administrator akun serta melaporkan akun- akun tersebut bisa diaktifkan kembali.” Kami tidak menonaktifkan akun- akun ini sebab konten apa juga yang mereka bagikan,” kilahnya dilansir dari The Guardian. Dalam peluang berbeda, Meta pula melaporkan sudah menghapus lebih dari 150 akun Facebook serta Instagram yang diyakini terpaut dengan kelompok militan Palestina, Hamas.

 

” Kami menghapus 141 akun Facebook, 79 Taman, 13 Tim, serta 21 akun Instagram dari Jalan Gaza di Palestina yang paling utama menargetkan orang- orang di Palestina, serta pada tingkatan yang jauh lebih rendah di Mesir serta Israel,” tulis Meta dalam Adversarial Threat Report bulanannya, dilansir dari i24news. televisi, Jumat( 3/ 12/ 2021).

6. Mark Zuckerberg sebut Hamas penjahat

CEO Meta Mark Zuckerberg mengutuk serbuan Badai Angkatan laut(AL) Aqsha oleh Hamas. Serbuan teroris oleh Hamas merupakan kejahatan murni. Tidak sempat terdapat pembenaran buat melaksanakan aksi terorisme terhadap orang- orang yang tidak bersalah, ucapnya dalam Instagram Story, sebagian waktu kemudian. Menjawab postingannya, akun formal Israel di X berterima kasih kepadanya sembari memberikan tangkapan layar dari pesannya. Terima kasih@Meta.

7. Gambar Anak Palestina Pegang Senjata

The Guardian memberi tahu kalau guna WhatsApp, yang menciptakan foto bersumber pada permintaan pengguna, menunjukkan foto pistol ataupun anak pria memegang senjata kala pencarian memakai sebutan” Palestina”,” Palestina”, ataupun” Anak Muslim Palestina” dimasukkan. Secara totalitas, Koalisi Hak Digital Palestina melaporkan konten Palestina masih“ dimoderasi secara kelewatan” di platform Meta. Mereka juga menyerukan Meta buat merilis audit komprehensif terhadap seluruh kumpulan informasi yang digunakan buat pelatihan AI dalam moderasi konten. Mereka pula menuntut penyelidikan atas peristiwa terbaru terpaut model AI Meta.“ Industri berisiko tidak cuma kehabisan keyakinan warga Palestina, tetapi pula mengganggu kredibilitasnya di dunia Arab.”

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours