Cerita komunitas Yahudi serta Palestina yang terbelah di tengah pendudukan Tepi Barat usai konflik Israel- Hamas

7 min read

Cerita komunitas Yahudi serta Palestina yang terbelah di tengah pendudukan Tepi Barat usai konflik Israel- Hamas

Cerita komunitas Yahudi serta Palestina yang terbelah di tengah pendudukan Tepi Barat usai konflik Israel– Hamas Di lereng bukit yang menghadap Betlehem di Tepi Barat, 3 pemuda Palestina nyatanya semacam terletak dalam adegan dari era Alkitab. Dengan kecepatan serta keahlian yang terasah, mereka memetik zaitun dari tumbuhan produktif. Buah matang itu jatuh ke tanah dalam tumpukan berkilau. Tetapi, ini ialah awal kalinya Ahmed melaksanakan pekerjaan ini.

 

Saat sebelum 7 Oktober kemudian, dia pernah bekerja di proyek konstruksi kepunyaan masyarakat Israel. Dia menerima upah dekat 400 shekel( setara Rp2 juta) satu hari. Tetapi, sehabis serbuan Hamas ke Israel pada 7 Oktober kemudian, nyaris seluruh akses masyarakat Arab ke Israel tertutup. Oleh sebab itu, Ahmed, semacam banyak masyarakat generasi Arab lain, kehabisan mata pencaharian. ” Tidak terdapat pekerjaan layak saat ini,” katanya kepada aku sembari mensterilkan ranting- ranting tumbuhan zaitun. ” Aku bekerja satu hari di mari serta pada hari lain di situ– di ladang, memetik zaitun. Aku butuh berikan makan keluarga aku. Apa yang dapat aku jalani?” kata Ahmed.

 

Pengetatan keamanan Israel yang terus menjadi intens di Tepi Barat tidak cuma pengaruhi Ahmed secara ekonomi. Pos- pos pengecekan, yang sepanjang ini merangsang kebencian di golongan masyarakat Palestina, memberlakukan peraturan pembatasan yang lebih ketat sehingga membatasi mobilitas Ahmed. ” Mereka sudah menutup jalur. Aku cuma dapat berjalan di dekat rumah aku saat ini. Pos- pos pengecekan itu mencekik kami.” Di sisi lain, kenaikan keamanan yang dikritik Ahmed itu malah membuat orang- orang semacam Danny Chesterman merasa lebih nyaman. Danny merupakan seseorang laki- laki riang yang biasa melaksanakan touring sepeda. Dia tinggal di pemukiman Efrat. Danny pindah ke Israel sebagian dekade kemudian, namun dia senantiasa mempertahankan aksen khas London.

 

” Kami ditafsirkan selaku penduduk ilegal yang mencuri tanah dari masyarakat Arab,” jawabnya, kala aku bertanya tentang gimana komunitasnya ditatap oleh orang luar. ” Secara universal, kami tidak mencuri tanah siapa juga.” ” Kami merupakan orang- orang yang berangkat kerja di pagi hari. Kami melaksanakan bisnis. Kami mempunyai prof di universitas. Kami merupakan orang- orang taat, bukan orang- orang yang beresiko.”

Polemik pendudukan wilayah

Pada dini tahun ini, timbul perdebatan di tingkatan internasional kala pemerintah Israel di dasar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melegalkan 9 permukiman Yahudi di Tepi Barat. PBB serta banyak negeri lain berkata seluruh permukiman itu ilegal bagi hukum internasional. Asumsi tersebut ditentang oleh banyak masyarakat Israel, paling utama mereka yang tinggal di permukiman itu. Bagaimanapun, banyak golongan barangkali hendak setuju kalau peristiwa 7 Oktober kemudian, dan serbuan balasan dari militer Israel terhadap Hamas, sudah memperparah ikatan antara masyarakat Yahudi serta orang sebelah Arab mereka.

 

” Aku berharap serta yakin kalau ikatan dengan orang sebelah dekat kami di mari, di desa- desa Arab, hendak terus membaik,” kata Danny. ” Oleh sebab itu, jelas terdapat kekhawatiran terpaut keamanan.” Pada pagi hari 7 Oktober kemudian, Hamas– yang dikecam selaku organisasi teroris oleh Inggris serta banyak negeri yang lain– meluncurkan serbuan yang belum sempat terjalin lebih dahulu terhadap Israel. Dekat 1. 400 orang tewas serta dekat 240 yang lain disandera. Selaku aksi pembalasan, Israel melancarkan serbuan hawa ke Gaza serta pasukan tempur mereka sudah merambah wilayah itu. Israel melaporkan hendak terus menggelar pembedahan militer hingga Hamas betul- betul sirna.

 

Sepanjang ini, pembedahan militer Israel diperkirakan sudah membunuh lebih dari 10. 800 masyarakat Gaza, 4. 400 di antara lain merupakan kanak- kanak. Danny berkata kalau ia mendengar desas- desus kalau milisi Hamas menemukan dorongan dari masyarakat Gaza yang bekerja sama dengan orang Israel. Dia berkata, berita itu sudah secara mendasar mengganti metode orang- orang Yahudi memandang tetangga- tetangga Arab mereka. ” Terdapat contoh- contoh dekat Jalan Gaza; di mana kibbutzim( komunitas pedesaan Yahudi) mempunyai ikatan fantastis dengan masyarakat Arab yang bekerja di situ serta setelah itu menciptakan peta desa dengan nama- nama keluarga mereka,” ucap Danny menguraikan klaimnya.

 

” Mereka mengenali hal- hal seram tentang orang- orang yang[dahulu] diyakini mempunyai ikatan baik dengan mereka.” Sentimen ini pula digaungkan oleh Oded Rivivi, walikota Efrat yang telah berprofesi lebih dari satu dekade. Dia menegaskan, walaupun ikatan antara komunitas Yahudi dengan sebagian besar desa- desa Arab di dekatnya sepanjang ini lumayan baik, mereka sudah berganti secara mendasar, paling tidak buat dikala ini.

 

” Berapa lama waktu yang diperlukan buat mengatasinya? Cuma waktu yang ketahui. Tetapi sepanjang Kamu tidak mendengar para pemimpin Arab mengutuk Hamas, ini jelas hendak memerlukan waktu lebih lama buat membangun kembali rasa keyakinan itu,” katanya.

Ketegangan di Tepi Barat

Di desa- desa Arab di seberang lembah, terdapat faktor ketidakpercayaan yang jauh berbeda– pelaksanaan keamanan ketat oleh pasukan Israel tidak cuma berbentuk akumulasi pos pengecekan. Pada Oktober kemudian, Pasukan Pertahanan Israel( IDF) menangkap lebih dari 1. 400 masyarakat Palestina. Israel menuduh sebagian besar dari masyarakat sipil itu terafiliasi dengan Hamas. Pas pada hari kami menyusun liputan jurnalistik ini, Otoritas Palestina berkata 18 orang sudah tewas di Tepi Barat, sehingga total korban jiwa meningkat jadi 170 cuma dalam waktu sebulan.

 

Suasana ini sudah disambut dengan keluhan dari pihak Palestina, baik dengan kekerasan ataupun secara damai. Di Betlehem, misalnya, para owner toko melaksanakan pemogokan universal. Meski mayoritas respon amarah timbul akibat apa yang terjalin di Gaza, Tepi Barat sesungguhnya telah rawan perselisihan apalagi saat sebelum 7 Oktober. Kekerasan antarpemukim sudah jadi sumber kemarahan. Pria muda Israel, kerapkali bersenjata lengkap, dituding memforsir keluarga- keluarga Palestina meninggalkan rumah mereka. Satu video menampilkan seseorang laki- laki Palestina ditembak di kaki oleh seseorang pemukim Yahudi yang memegang senapan serbu. Kembali ke Efrat, aku menanyakan kepada Walikota Oded tentang kekhawatiran itu.

 

” Terdapat sekelompok kecil ekstremis Yahudi yang berperan keras serta orang- orang itu butuh ditangani oleh polisi, namun sebagian besar orang- orang Yahudi yang tinggal di mari, pantas memperoleh keamanan. “ Mereka pantas diperlakukan semacam manusia sebab seperti itu watak dari komunitas- komunitas ini,” katanya kepada aku. Ia menegaskan otoritas setempat hendak mengambil aksi. ” Tadi malam kami mengadakan pertemuan dengan perdana menteri, dan seluruh walikota. ” Terdapat konvensi yang menyerukan supaya pemerintah membenarkan para ekstremis ini ditangkap, dihentikan, serta terus menjadi kilat itu terjalin, terus menjadi sedikit kehancuran yang hendak terjalin,” ucapnya.

 

Pada kesimpulannya, seluruh konflik ini mempunyai alibi mendasar: 2 kelompok warga yang bersama sangat yakin mereka berhak tinggal di atas sebidang tanah yang sangat diperebutkan di bumi. Sepanjang sebagian dekade terakhir, dunia internasional menyerukan supaya terdapat” Pemecahan 2 Negeri”, dengan Tepi Barat serta Gaza membentuk negeri Palestina merdeka, dengan Yerusalem Timur selaku ibukotanya. Sepanjang sebagian tahun terakhir, nyatanya prospek mewujudkan pemecahan itu jadi terus menjadi kecil. Pemerintahan koalisi yang dipandu Perdana Menteri Netanyahu, yang didukung oleh partai- partai pemukim sayap kanan, membuat kompromi nampak mustahil. Peristiwa 7 Oktober kemudian ditatap oleh banyak pihak selaku titik terakhir yang menewaskan impian pemecahan dua- negara.

 

” Aku pikir tiap hari yang lalu kita terus menjadi jauh dari itu,” kata Walikota Oded. ” Israel betul- betul mengevakuasi seluruh warganya, seluruh kedatangan sipilnya, seluruh kedatangan militernya dari Jalan Gaza di dasar tekanan dari warga internasional. Serta apa yang kami miliki merupakan tentara militer Hamas.” Pasti saja, anjuran itu disambut dengan kemarahan dan perlawanan, oleh banyak orang Palestina. Untuk mereka, dan sebagian besar dari dunia internasional, Pemecahan 2 Negeri merupakan salah satunya yang bisa diterima. Mereka berkata perihal lain didasarkan pada penolakan hak serta kebebasan yang terus bersinambung untuk jutaan masyarakat Palestina biasa. Sedangkan di kebun zaitun, kala matahari terbenam di dasar gereja di tempat kelahiran Yesus, aku bertanya kepada Ahmed apa yang ia harapakan dari masa depannya.

 

” Perdamaian serta keamanan. Buat bisa tiba serta berangkat dengan mobil kami, buat memandang kanak- kanak kami, buat tinggal di negeri kami tanpa permasalahan… Kami tidak mencari permasalahan. Kami mau dapat berikan makan kanak- kanak kami, itu saja,” ucapnya.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours