Selamat Bekerja Prabowo- Gibran! Ini 4 PR Ekonomi Peninggalan Jokowi

5 min read

Selamat Bekerja Prabowo- Gibran! Ini 4 PR Ekonomi Peninggalan Jokowi – Jakarta, Beritaokewla.com Indonesia- Komisi Pemilihan Universal( KPU) mengumumkan calon presiden no urut 2 Prabowo Subianto- Gibran Rakabuming Raka jadi pemenang Pemilihan Presiden 2024. Hasil rekapitulasi suara KPU melaporkan pendamping ini mendapatkan 96. 214. 691 suara.

Prabowo unggul di 36 provinsi yang maksudnya ia menang satu putaran. Selaku pemenang yang hendak mengambil alih Presiden Jokowi pada 20 Oktober nanti, terdapat beberapa pekerjaan rumah di bidang ekonomi yang wajib dikerjakan oleh Menteri Pertahanan tersebut.

Berikut ini merupakan tantangan ekonomi yang ditinggalkan Jokowi buat dituntaskan penggantinya, Prabowo Subianto.

1. Mengkonsumsi Merosot

Prabowo– Gibran wajib menuntaskan PR awal, ialah tingkatan mengkonsumsi warga yang terus melemah sebagian tahun terakhir. Saat sebelum pandemi Covid- 19 menyerang Indonesia, tingkatan perkembangan mengkonsumsi warga masih terletak pada rata- rata 5% per tahun.

Tetapi, sehabis pandemi perkembangan ini hadapi tren penyusutan. Pada 2022, Tubuh Pusat Statistik( BPS) mencatat mengkonsumsi warga RI cuma sanggup berkembang 4, 94%. Tingkatan perkembangan itu terus menjadi mengkhawatirkan di 2023, ialah cuma 4, 82%.

Lemahnya perkembangan mengkonsumsi ini pantas diwaspadai, sebab zona ini ialah penopang utama perkembangan ekonomi Indonesia. Rata- rata mengkonsumsi menyumbang lebih dari 50% dari Produk Dalam negeri Bruto Indonesia. Pada 2023 misalnya zona ini berkontribusi sebesar 53, 18% dari perkembangan ekonomi Indonesia.

BPS serta pemerintah melaporkan pelemahan perkembangan mengkonsumsi ini dipicu dari perpindahan warga yang mulai doyan berinvestasi. Beberapa ekonom pesimistis serta berkata energi beli warga Indonesia lagi tertekan oleh bermacam aspek.

Prabowo- Gibran tidak dapat berleha- leha sebab pada 1 Januari 2025 tarif Pajak Pertambahan Nilai( PPN) hendak naik jadi 12%. Peningkatan PPN ini diprediksi hendak terus menjadi menggerus keahlian warga buat berbelanja.

2. Surplus Dagang Rekor Beruntun, Uangnya Entah di Mana

Pemerintahan Presiden Jokowi sukses membongkar rekor surplus perdagangan sepanjang 46 bulan beruntun sampai Februari 2024. Tetapi, rekor ini bukan tanpa catatan sebab nilai surplus Indonesia terus menyusut.

Bersumber pada catatan BPS per Februari 2024, Indonesia hadapi surplus US$ 870 juta lebih rendah dibanding bulan lebih dahulu yang menggapai US$ 2, 02 miliyar. Surplus ini turun tajam dibanding surplus pada Februari 2023 yang menggapai US$ 5, 48 miliyar. Penyusutan surplus ini dipengaruhi oleh turunnya ekspor serta menaiknya impor. Ekspor dibandingkan Februari 2023 nilai ekspor turun sebesar 9, 45 secara tahunan serta impor naik sampai 15, 83% secara tahunan.

Surplus yang terjalin beruntun sepanjang 3 tahun lebih ini pula tidak dinikmati seluruhnya buat ekonomi Indonesia. Alasannya, devisa hasil ekspor tidak masuk ke pasar keuangan dalam negara. Besarnya surplus dagang yang dirasakan Indonesia, tidak berbanding lurus dengan kenaikan cadangan devisa.

Pada Mei 2020, surplus neraca dagang awal kali terjalin di masa Jokowi sebesar US$2, 01 miliyar sedangkan cadev Indonesia tercatat sebesar US$130, 5 miliyar. Tetapi sedikit berbeda pada Oktober 2021, neraca dagang paling tinggi hadapi surplusnya sebesar US$5, 8 miliyar sebaliknya cadev terpantau menggapai puncaknya pada September 2021 sebesar US$146, 9 miliyar ataupun satu bulan lebih dahulu.

Permasalahan ini disadari oleh pemerintahan Jokowi. Sebab itu, Presiden Jokowi menghasilkan Peraturan Pemerintah No 36 Tahun 2023 tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Energi Alam. Ketentuan ini mengharuskan eksportir buat memarkirkan dolar hasil ekspornya di sistem keuangan dalam negara. Prabowo- Gibran memiliki tugas buat mendesak penerapan ketentuan ini.

3. Impor RI Turun, Ciri Penciptaan Melemah?

Impor RI hadapi tren penyusutan. Per Februari 2024, BPS mencatat nilai impor Indonesia sebesar US$18, 44 miliyar ataupun merosot 0, 29%. Penyusutan tersebut sesungguhnya menandai tren penyusutan impor yang telah terjalin semenjak pertengahan 2023.

Impor RI pernah melonjak pada Mei 2023 sebesar US$ 21, 28 miliyar. Tetapi merosot di bulan selanjutnya jadi cuma US$ 17, 15 miliyar. Pada November 2023 angka itu pernah kembali naik jadi US$ 19, 59 miliyar, tetapi terus hadapi tren penyusutan sampai Februari 2024.

Tren penyusutan yang dirasakan oleh Indonesia dipicu oleh penyusutan nilai impor nonmigas. Impor nonmigas pada September 2023 turun 14, 46% dibanding September 2022. Dari sisi nonmigas, impor bahan baku serta benda modal hadapi penyusutan sangat dalam bulan itu. Pada periode yang sama, kegiatan bisnis yang tercermin dari Purchasing Managers Index( PMI) manufaktur membagikan sinyal pelemahan.

Pada periode akhir 2023, perilaku wait and see para pengusaha menunggu hasil Pemilihan Presiden 2024 ditengarai jadi faktor penyusutan impor ini. Tetapi, baru- baru ini Pimpinan Universal Asosiasi Pengusaha Indonesia( Apindo) Shinta Widjaja pengusaha tengah kesusahan mendapatkan bahan baku buat penciptaan. Ia menekankan yang jadi permasalahan terdapat pada sisi penciptaan industri yang tengah melambat sebab sulitnya mendapatkan bahan baku dari internasional.

4. Bocor.. Bocor…

Presiden Jokowi sukses mencatatkan kinerja realisasi investasi yang baik sepanjang mengetuai. Pada 2023, Tubuh Koordinasi Penanaman Modal( BKPM) mencatat realisasi investasi menggapai Rp 1. 418, 9 triliun. Besaran realisasi ini melampaui sasaran pemerintah ialah Rp 1. 400 triliun.

Realisasi sebesar Rp 1. 419 triliun tersebut bertambah 17, 5% dibanding realisasi 2022. Informasi BKPM menampilkan realisasi investasi asing( penyertaan modal asing/ PMA) menggapai Rp 744 triliun ataupun 52, 4% dari total realisasi investasi. Sedangkan itu, investasi dalam negara( penyertaan modal dalam negara/ PMDN) menggapai Rp 674, 9 triliun.

Sekali lagi, capaian realisasi investasi ini bukan tanpa catatan. Investasi di masa Jokowi dinilai masih kurang efektif. Tidak efisiennya investasi itu bisa nampak dari penyerapan tenaga kerja yang cuma menggapai 1, 823 juta pekerja pada 2023.

Kelemahan realisasi investasi pula nampak dari skor ICOR yang relatif besar. Informasi Tubuh Perencanaan Pembangunan Nasional( Bappenas) menampilkan ICOR di masa Presiden Joko Widodo( Jokowi) bertambah dari dekat 5% pada 2014 jadi 8, 16% pada 2022. Prestasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono( SBY) lebih baik dengan rata- rata skor ICOR yang menggapai 4, 18%.

ICOR mencerminkan besarnya bonus kapital( investasi) baru yang diperlukan buat menaikkan satu unit output dalam menunjang pencapaian perkembangan ekonomi serta pembangunan nasional. Nilai ICOR diperoleh dengan menyamakan besarnya bonus kapital dengan bonus output.

Terus menjadi besar nilai koefisien ICOR, hingga terus menjadi tidak efektif perekonomian pada periode waktu tertentu. Banyak aspek yang membuat nilai ICOR Indonesia besar mulai dari fasilitas infrastruktur yang kurang mencukupi, ruwetnya birokrasi, ongkos penciptaan, sampai tingginya bayaran logistik.

Link Terkait : 

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours