Viral Cangkok Leher Berteknologi AI- Robotik, Beneran ataupun Hanya Khayalan?

3 min read

Viral Cangkok Leher Berteknologi AI- Robotik, Beneran ataupun Hanya Khayalan?- Jakarta- Sebuah video animasi tentang cangkok leher viral di media sosial belum lama ini. Project yang dinamakan BrainBridge ini diklaim bakal jadi pemecahan bermacam permasalahan kesehatan di masa depan.

Prosedur yang nampak lumayan seram ini dikerjakan dengan campuran artificial intelligence( AI) serta teknologi robotik. Sedikit campur tangan manusia dalam prosesnya, disebut- sebut buat kurangi resiko terbentuknya human error.

Pemakaian teknologi robotik pula bertujuan buat memesatkan proses, sehingga kesempatan buat survive lebih besar. Dalam video, nampak 2 set lengan robotik dalam sekejap memindahkan serta menyambung kepala dari satu badan ke badan yang yang lain secara simultan.

Memangnya siapa yang ingin mendonorkan kepala? Diucap dalam video tersebut, donor dapat berasal dari orang yang hadapi brain death ataupun kematian otak, ataupun hadapi penyakit sungguh- sungguh semacam kanker serta keadaan neurodegeneratif yang merangsang kelumpuhan buat dipindahkan ke badan yang lebih sehat.

Persoalan selanjutnya, apakah konsep ini betul- betul realistis? Memulai analisisnya, halaman MIT Technology Review melabeli video tersebut fake serta membenarkan kalau BrainBridge itu sendiri bukan industri asli serta tidak terinkorporasi dengan pihak manapun.

” Video ini terbuat oleh Hasham Al- Ghaili, komunikator sains serta sutradara film dari Yaman yang pada 2022 sempat membuat video viral EctoLife tentang rahim buatan,” tulis halaman tersebut.

Sama semacam video yang viral tentang cangkok leher kali ini, video tentang rahim buatan atau artificial womb tersebut pula pernah gempar pada masanya. Banyak yang mempertanyakan apakah beneran konsep yang realistis ataupun semata- mata khayalan.

Terpaut cangkok leher, seseorang pakar bedah saraf di Amerika Serikat Robert White pada 1970- an sempat melaksanakannya pada monyet. 2 ekor monyet silih diganti kepalanya, kemudian dijahit dengan perinci seluruh sistem saraf serta peredaran darahnya.

Hasilnya, kedua monyet senantiasa dapat hidup serta dapat memandang, sebagian hari saat sebelum kesimpulannya mati. Diperkirakan, resiko yang sama fatalnya pula hendak terjalin pada manusia, kalaupun senantiasa hidup hingga mungkin lumpuh diprediksi sangat besar sebab mengubah kepala berarti mengganggu sumsum tulang balik.

Di luar perkara teknis, pula terdapat perkara etik yang nantinya butuh diperhitungkan. Kalaupun berhasil, memindahkan kepala ke badan lain pastinya bakal mengalami banyak perkara.

” Gagasan kalau mengambil kepala seorang kemudian memasangnya ke badan orang lain kemudian hendak senantiasa jadi seorang yang sama, merupakan teori. Ya bagus jika memanglah benar, tetapi pasti tidak senantiasa bagus pada sebagian kultur serta secara histori,” kata Paul Root Wolpe, seseorang prof bioetik di Emory University, dilansir dari Iflscience.

Link Rekomendasi : 

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours