Pilu, Bapak Berlutut di Depan Anak sebab Tidak Dapat Belikan iPhone

4 min read

Pilu, Bapak Berlutut di Depan Anak sebab Tidak Dapat Belikan iPhone- Jakarta Sebuah video viral dari Tiongkok sudah menarik atensi publik secara luas. Di dalamnya, seseorang bapak dilanda rasa malu serta berlutut di hadapan putrinya yang masih anak muda. Peristiwa ini terjalin sebab bapak tersebut tidak sanggup penuhi kemauan putrinya buat mempunyai iPhone terkini. Peristiwa ini menghasilkan gelombang perdebatan yang menggema di dunia maya.

Kala citra merk serta status sosial terpaut dengan beberapa barang elegan terus menjadi mendominasi benak, aksi si bapak memohon maaf kepada putrinya mencerminkan dinamika lingkungan antara ekspektasi modul serta nilai- nilai keluarga. Kedatangan iPhone selaku simbol status sudah menjadi fenomena yang pengaruhi banyak aspek kehidupan, tercantum dinamika antara orang tua serta anak.

Dalam konteks kehidupan modern yang terus berganti, klip ini memperkenalkan cerminan yang menuai pro serta kontra sekalian menyoroti tantangan- tantangan yang dialami oleh banyak keluarga di masa digital dikala ini.

Gimana cerita sepenuhnya? Berikut ini sudah Beritaokewla rangkum dari bermacam sumber cerita lengkapnya, pada Pekan( 26/ 5).

Insiden yang Menghebohkan

Pada bertepatan pada 4 Mei, suatu video yang memperlihatkan seseorang bapak di Taiyuan, Provinsi Shanxi, Cina tengah, berlutut di depan putrinya sebab tidak sanggup membelikannya iPhone sudah merangsang perdebatan sengit tentang pola asuh di Cina. Rekaman tersebut difilmkan oleh seseorang pejalan kaki bernama Zhong yang kebetulan melintas serta mendengar obrolan keras antara bapak serta anak tersebut di jalanan. Putrinya, dengan nada besar, memarahi bapaknya:” Orang tua lain dapat membelikan anak mereka iPhone. Mengapa kalian tidak memiliki duit?”

Respon gadis itu yang keras serta memalukan membuat si bapak berlutut, menggelengkan kepala selaku ciri penyesalan atas ketidakmampuannya secara finansial.” Bangun! Bangun kilat!” teriak si anak, yang nyatanya merasa sikap bapaknya sangat memalukan. Zhong yang melihat peristiwa tersebut merasa prihatin dengan si bapak serta marah terhadap sikap putrinya.” Aku apalagi merasa mau berjalan mendekat serta menamparnya,” kata Zhong.

Reaksi Publik yang Beragam

Klip ini jadi viral di media sosial di Cina, ditonton sebanyak 91 juta kali di Weibo serta 6 juta kali di Douyin, dan jadi topik pembicaraan di segala negara. Kebanyakan orang mengancam sikap gadis tersebut serta mengkritik bapaknya yang dikira tidak sanggup mendidik anaknya dengan baik.” Konsumerisme sudah bawa akibat negatif pada generasi muda. Mereka sangat terobsesi dengan kenyamanan modul serta mengabaikan kesusahan orang tua mereka. Ini merupakan kejadian sosial!” ucap seseorang pengguna di Weibo.

Pendapat lain meningkatkan,” Aku merasa pilu buat keduanya. Anak itu sangat sembrono, namun aksi berlutut bapaknya tidak pantas. Pasti saja, bapak ini pantas disayangkan, serta tindakannya hendak mendesak anaknya jadi lebih pemberontak. Ia tidak menampilkan kesalahan anaknya. Ia kandas dalam mendidik.” Fenomena orang tua ataupun kakek- nenek yang sangat memanjakan kanak- kanak mereka kerap jadi kabar utama di daratan Cina, yang menampilkan kasus dalam pola asuh serta nilai- nilai yang dianut generasi muda.

Refleksi Terhadap Pola Asuh serta Nilai Sosial

Insiden ini bukan permasalahan awal dari kanak- kanak yang mempermalukan orang tua mereka di tempat universal. Pada tahun 2019, seseorang anak pria berumur 10 tahun di Provinsi Jiangxi timur menarik rambut ibunya dengan keras kala ia menolak membelikannya mainan di pusat perbelanjaan. Tahun kemudian, seseorang anak muda menemukan respon keras di dunia maya sebab menendang serta memukul neneknya sehabis neneknya memintanya menyudahi bermain permainan di ponsel serta menyerahkan gadget tersebut.

Kasus- kasus ini mencerminkan krisis nilai- nilai dalam warga yang terus menjadi materialistis serta kurang menghargai perjuangan dan pengorbanan orang tua. Para orang tua yang sangat memanjakan kanak- kanak mereka tanpa mengarahkan nilai- nilai kerja keras serta penafsiran bisa berujung pada generasi muda yang egois serta kurang empati. Pembelajaran dalam keluarga sangat berarti buat membentuk kepribadian anak, serta aksi si bapak yang berlutut malah memperlihatkan kelemahan dalam mengarahkan nilai- nilai berarti kepada putrinya. Pembelajaran bukan cuma soal sediakan kebutuhan modul, namun pula menanamkan rasa tanggung jawab, empati, serta penghargaan terhadap usaha keras.

Dalam konteks yang lebih luas, warga butuh merenungkan kembali nilai- nilai yang ditanamkan kepada generasi muda. Orang tua wajib berfungsi selaku teladan yang mengarahkan nilai- nilai luhur, bukan cuma penuhi tuntutan modul kanak- kanak mereka. Peristiwa di Taiyuan ini jadi gambaran dari permasalahan yang lebih besar serta menegaskan kita seluruh hendak berartinya penyeimbang antara kasih sayang serta disiplin dalam mendidik kanak- kanak.

Link Rekomendasi : 

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours